oleh : Kurniawan Budi Agus
Judul itu saya sampaikan sebagai sebuah paradoks yang ingin saya nyatakan melalui tulisan ini. Tulisan ini saya sampaikan sebagai ungkapan betapa menyesalnya saya tidak mengunjungi wilayah Maluku lebih cepat. Bukan hanya karena keindahan alam dan budayanya, Maluku juga menyimpan nilai harga diri sebuah masyarakat bermartabat yang jauh di luar ekspektasi saya ketika pertama kali memasuki wilayah Raja-Raja ini.
Saya adalah seorang pendatang di wilayah Maluku yang masuk ke kawasan ini karena ditempatkan sebagai lingkup kerja saya oleh sebuah institute penelitian tempat saya mencari penghasilan. Saya besar di Jakarta dengan masyarakat yang mayoritas Islam dan mulai mengenal Maluku berdasarkan cerita Konflik Sosial yang terjadi pada tahun 1999 lalu. Waktu itu saya masih kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Yang saya pahami adalah betapa mengerikannya Maluku dengan masyarakat yang saling membunuh dan tidak ragu saling menyakiti karena alasan priomordialisme. Bertumbuh besar, saya tidak memiliki banyak kawan orang Maluku (atau yang sering disebut dengan orang Ambon oleh masyarakat Jakarta pada umumnya) yang berasal asli dari wilayah Provinsi Maluku. Teman-teman Maluku saya seluruhnya adalah mereka yang lahir dan besar di Jawa, dari keluarga asli maupun campuran dari Maluku. Akibatnya, saya pun tidak melihat identitas ke-Maluku-an dalam diri mereka karena mereka semua sudah menjadi masyarakat post-modernist.
Dengan demikian, pemahaman saya mengenai orang Maluku kurang lebih masih sama seperti semasa kecil. Orang Maluku asli berperingai keras dan tidak bisa didekati oleh mereka yang bukan berasal dari kelompoknya. Begitu kurang lebih citra masyarakat Maluku di mata awam saya sebagai seorang yang mengenal Maluku hanya lewat layar televisi dan jajaran huruf di media cetak.
Mulai memasuki dunia kerja, saya pun mulai berjalan ke beberapa provinsi dan menjumpai karakteristik masyarakat adat dari masing-masing daerah dengan keunikan dan keistimewaan yang luar biasa, dimana saya sendiri belum pernah mendapatkan gambaran tersebut dari kelompok masyarakat daerah yang besar di kota Jakarta. Pada tahun 2012, saya mengikuti tim pemantau Pilkada untuk Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Saat itu, saya bekerja di pusat sebagai pengolah data yang dihimpun dari mereka yang ditempatkan di daerah penyelenggara Pilkada. Karena alasan kejenuhan, saya kemudian menawarkan diri untuk ikut dalam tim Pemilu 2014 ke daerah-daerah. Alasannya sederhana saat itu: untuk kabur dari dunia kerja.
Tanpa saya duga, saya ditempatkan untuk memantau Pemilu 2014 di Maluku. Dengan semua riwayat kerja saya, awalnya saya menduga akan diberikan tempat tugas di wilayah yang lebih dekat dengan ibu kota. Namun ternyata tidak, saya harus menjajal wilayah yang benar-benar baru untuk saya untuk jenis pekerjaan yang juga baru saya coba.
Pada awal menginjak Bandara Pattimura, yang pertama saya pikirkan adalah bagaimana caranya saya membuat diri saya nyaman dengan semua orang-orang ini. Orang Maluku senang sekali menyapa, tindakan ini di Jakarta akan dianggap mencurigakan karena orang yang tidak mengenal satu sama lain tidak lazim bercakap-cakap secara acak di tempat umum. Orang Maluku juga senang bercerita, saya sendiri adalah orang yang auditori, sehingga mendengarkan cerita bukanlah masalah untuk saya. Namun, orang Maluku juga senang mendengarkan kita bercerita. Ini yang membuat saya sedikit gusar di awal karena menceritakan kisah saya kepada orang asing bukanlah kebiasaan saya.
Masih banyak hal yang menurut kebiasaan saya tidak akan membuat saya nyaman di Maluku, di antaranya: kebiasaan mereka meludah sembarangan, seringnya mereka menyumpah serapah, nada bicaranya yang tinggi dan keras, dan yang terutama kesulitan saya memahami bahasa Indonesia mereka karena sudah dikombinasikan dengan bahasa daerah Maluku. Hal itu berlangsung beberapa bulan sampai akhirnya saya mengenal sisi lain Maluku yang manise.
TERNYATA, menyapa dan bercerita itu adalah salah satu kebiasaan daerah ini untuk saling bertegur sapa. Seorang tokoh perdamaian, Abidin Wakanno, yang pernah berbincang dengan saya mengatakan bahwa konflik sosial yang terjadi pada periode 1999-2004 adalah sebuah pembelajaran terbesar dalam kehidupan bermasyarakat orang Maluku. Karena kepahitan itu, masyarakat Maluku justru menjadi lebih toleran terhadap sesamanya yang berbeda identitas dengannya. Terlepas dari kerasnya suara mereka dan betapa cepatnya mereka berbicara sehingga membuat saya susah memahami apa yang disampaikan, ternyata banyak kelembutan yang hadir dari sebuah masa lalu yang begitu tidak menyenangkan.
Saya bukan orang Maluku, namun saya ikut merasa sedih mendengarkan secara detil dari beliau kisah sulitnya mereka hidup di masa konflik sosial, yang akhirnya memaksa mereka meninggalkan tempat tinggal mereka untuk bergabung dalam kawasan yang memiliki kepercayaan yang sama dengan mereka. Namun luka konflik itu sama sekali tidak ada bekasnya dalam keseharian masyarakat Maluku, selain tentunya tempat tinggal mereka yang masih terbagi berdasarkan keyakinan.
Bangkitnya orang Maluku dari konflik hanya bisa dilakukan oleh masyarakat berjiwa besar, yang cukup dewasa dan rendah hati untuk menekan ego mereka untuk berdamai dengan kelompok yang pernah menyakiti mereka di masa lalu. Ini adalah poin besar yang sangat saya hargai dari orang Maluku. Kedewasaan mereka untuk tidak lagi mengungkit suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) yang dapat menyakiti saudara mereka yang berbeda kelompok.
Ini sangat terlihat dari dewasanya mereka menyikapi fenomena Aksi Bela Islam (ABI) yang terjadi di daerah barat Indonesia. Saya dimintai tolong oleh seorang saudara untuk membantu memuat tulisan seorang professor yang membahas mengenai kasus ABI tersebut. Namun, pimpinan media di Ambon tidak semuanya setuju untuk mengangkat tulisan itu ke medianya karena alasan, akan menyakiti umat Islam di Maluku dan justru memancing permasalahan dari kondisi yang sudah damai. Saya tidak marah, namun saya sangat takjub bahwa mereka bukan hanya mementingkan oplah Koran, tetapi juga mempertimbangkan efek psikologis yang timbul dari tulisan tersebut, walaupun sebenarnya tulisan itu saya nilai cukup netral dan tidak memihak siapapun. Sedewasa itu masyarakat Maluku dalam bertenggang rasa sehingga isu keagamaan tidak bersedia mereka ungkit karena khawatir akan mengangkat luka lama.
Ini adalah tahun ketiga saya bekerja di Maluku. Saya pun selalu merayakan Natal di Ambon dan baru kemudian pulang di Tahun Baru. Bukan karena saya tidak ingin merayakan Natal dengan keluarga saya di Jakarta, namun karena begitu indahnya suasana Natal di Ambon dengan lampu-lampu dan dekorasi kotanya yang sangat berkelip, berbeda dengan Kota Jakarta dimana kita hanya bisa melihat dekorasi Natal di pusat perbelanjaan saja. Di sini, semua hari raya besar akan diperlakukan sama, ketiga Idul Fitri, maka dekorasi ketupat, dan lainnya akan dipasang di pusat kota. Begitu pula apabila Natal menjelang. Meskipun masih disayangkan kehidupan yang masih terkotak-kotak berdasarkan agama, tetapi saya sangat menghargai nilai harga diri yang dipegang oleh masyarakat Maluku.
Mereka yang katanya galak dan menyeramkan, ternyata sangat ramah dan bertoleransi. Mereka yang dulu merasakan kerusakan akibat kepentingan SARA, ternyata justru pulih sangat cepat dan menjadi salah satu laboratorium kehidupan umat beragama yang baik untuk dicontoh oleh wilayah lain di Indonesia. Mereka yang pada awalnya terlihat tidak ramah, justru menjadi seperti keluarga untuk saya karena keramahan dan kesetiakawanannya. Apabila ditanya apakah saya ingin kembali ke Jakarta, saya tentu akan menjawab iya karena di sanalah keluarga saya tinggal. Namun, apabila ditanya apakah saya ingin terus merasakan suasana tenggang rasa yang serupa dengan Maluku, maka jawaban saya adalah absolutely YES.
Di Maluku, kita tidak perlu khawatir agama kita dihina karena masalah yang terjadi di daerah lain, di Maluku, kita bisa merasakan keramahan masyarakatnya yang bahkan bukan saudara. Semoga Maluku yang seperti ini akan tetap bertumbuh menjadi daerah yang menyenangkan orang yang mengunjunginya. Terutama orang-orang seperti saya yang tidak pernah mengenal Maluku secara personal. Mengenal Maluku dan orang-orang di dalamnya adalah hal yang menyenangkan, dan itu adalah sebuah pembelajaran yang akan teringat hingga masa tua nantinya.